Art Deco

art-deco8.jpgart-deco-windows.jpgArt Deco

Berawal dari pameran yang berjudul Paris exposition des Art Decoratifs es industries pada tahun 1925 di Perancis, didapatlah nama Art Deco. Dalam kamus karya Guy Julier Art Deco tidaklah dianggap sebagai sebuah gerakan namun hanyalah gaya atau kecendrungan dalam desain. Art Deco pada walnya muncul dan berkembang di Perancis di antara dua perang dunia pada tahun 1920-an, mengantisipasi perkembangan teknologi. Kehebatan mesin dan dunia transportasi seperti pesawat terbang dan kapal laut menjadi inspirasi dan pendukung berkembangnya gaya ini. Gaya ini dipengaruhi oleh aliran Kubisme dan Fauvisme, serta juga gaya mesin dan Indian Aztec, Amerika Selatan. Selain itu pula gaya pedesain modernisme awal seperti Josef Hoffmann, Frank Llyod Wright, Adolf Loos juga banyak diserap ke dalam Art Deco. Di Amerika gaya Art Deco jugag menghasilkan pendekatan baru dalam desain untuk kendaraan tranportasi yaitu, munculnya ornament – ornament dekoratif yang memanfaatkan unsur – unsur garis hias yang mengesankan gerak dan kecepatan. Jaman Art Deco sangat terkenal dengan mobil, kapal laut dan pesawat terbang yang dianggap sebagai simbol modernitas.

Gaya art Deco banyak dimanfaatkan dalam arsitektur, desain grafis, desain otomotif, desain furniture, desain produk. Ketika pedesain modernis berkutat pada fungsionalisme dan formalisme untuk mendapatkan desain yang ideal dan universal namun elitis, maka Art Deco muncul untuk memenuhi selera dan kebutuhan konsumen kelas menengah ke atas yang sesaat (Heller, 1988: 127). Gaya Art Deco ini disebut juga gaya Moderne atau Modernistik yaitu perpaduan antara bentuk baru yang disederhanakan dengan kecendrungan dekoratif lama. Desain Art Deco banyak menggunakan bahan – bahan mahal dan sedikit ornamen hias.

Bahasa visual dari Art Deco yang bersifat heroic dan futuristic membuat gaya ini dapat diterapkan pada materi pesan apapun baik komersil maupun untuk poltik. Art Deco adalah kecendrungan visual yang murni gaya, tanpa ideology apapun. Gaya art Deco menyebar di bebagai Negara Eropa. Perancis sebagai pusat Art Deco telah memiliki sekolah seni dekoratif The Martine School sejak tahun 1911. Walaupun pada saat itu modernisme yang mengutamakan fungsionalisme dalam desain sedang berkembang, namun kelas menengah yang mampu tetap memiliki kecendrungan estetis pada gaya dekoratif. Di Perancis perkembangan Art Deco ini juga dipengaruhi oleh dunia mode.

Dalam desain grafis tokoh Art Deco yang terkenal, terutama di Perancis, adalah AM, Cassandre, Jean Carlu. Desain Art Deco banyak menggunakan gradasi warna yang halus serta warna yang mengesankan efek kilauan atau kelengkungan logam. Art Deco tidak selalu berhubungan dengan kemewahan. Gaya Art Deco sering kali juga memanfaatkan bahan – bahan sederhana untuk menampilkan kesan mewah. Namun tidak seluruh gaya Art Deco dapat disebut mewah, karena gaya Art Deco untuk arsitektur di Amerika jusru dapat menekan biaya produksi. Pada gedung – gedung bioskop jaringan Odeondi Amerika pada tahun 1930-andi Amerika, art Deco banyak digunakan sehingga sering kali disebut “Gaya Odeon”.

Bila modernisme menggunakan “Less is more” maka art Deco mencoba tampil di tengah – tengah jaman modernisme tetapi dengan memanfaatkan ornamen hias. Bila modernisme berpegang pada “Form follows function” maka Art Deco tiba – tiba tampil dengan gaya hiasannya. Art Deco banyak digunakan untuk menampilkan kesan futuristik. Di jerman, gaya geometris Bauhaus digabungkan dengan bentuk – bentuk yang ekspresif banyak dimanfaatkan oleh para pendesain. Di Swiss gaya Art Deco merupakan asimilasi antara gaya Art Deco Perancis yang romantis dan gaya Art Deco Jerman menghasilkan gaya khas Swiss. Di Negara – Negara seperti Italia, Inggris, dan Amerika gaya Art Deco pun banyak digemari. Di Amerika, gaya Art Deco dipengaruhi oleh ornamen – ornamen Indian amerika Utara ataupun Indian Aztec. New York diannggap sebagai ibu kota Art Deco di Amerika. Di New York terdapat gedung Chrysler yang bercirikan Art deco.

Bila New Typographic dari Tschichold menekankan fungsi maka sebaliknya tata letak Art Deco mementingkan kebebasan, anarkis dan suasana karnaval (Muchyar) Sebuah buku berjudul “Mise en Page” (1929) karya pedesain Art Deco Perancis A. Tollmer menjelaskan :
“…lay out harus bebas dari segala aturan. Untuk mendapatkan kombinasi yang paling bervariasi, menjadi sangat perlu untuk membuang susunan yang setia pada sumbu vertical – horizontal. Dapatkan komposisi miring (Oblique) atau lengkungan. Inilah teknik modern untuk periklanan modern.”

Profesi pedesain grafis di amerika banyak mendapat peluang dengan berkembangnya dunia pers, terutama penerbitan majalah (Harper’s Bazaar, Vouge, Vanity Fair, House and Garden). Desain mobil dan pesawat terbang menjadi pedoman umum dalam desain produk dan interior. Kedua sarana yang menggunakan teknologi terkini itu didesain berdasarkan prinsip keilmuan dalam bidang aerodinamika dan hidrodinamika, sehingga pesawat terbang dan mobil dapat bergerak semakin cepat menembus udara dan air. Desain badan pesawat terbang dan mobil haruslah dapat mengurangi hambatan udara atau angin. Desain badan yang memiliki garis dan bentuk ramping dan lurus sehingga disebut Streamline, dengan ujung meruncing atau membulat sehingga dapat mengikuti alur atau arus air dan udara (Streamline = garis arus). Namun kemudian penggunaan prinsip Streamline ini sesungguhnya lebih disebabkan alasan dekoratif, karena diterapkan pada benda – benda yang sesungguhnya tidak membutuhkan pengurangan hambatan udara atau air.

Desain streamline pada walanya digungkan dalam teknologi kapal uap abad 19 agar dapat bergerak di air dalam kecepatan tinggi. Desain streamline semakin penting dengan berkembangnya teknologi transportasi di abad ke 20 untuk kapal selam, kapal pesiar, kereta api, kapal terbang dan mobil. Bahkan desain streamline juga diaplikasikan untuk alat rumah tangga yang tidak bergerak agar tampil modern. Gaya streamline pada akhirnya menjadi sekedar unsur dekoratif sebagai alat dari produsen untuk memenuhi fantasi – fantasi futuristik dari konsumen.

Referensi: Adityawan, Arief, Tinjauan Desain dari revolusi industri hingga post modern, Jakarta, Universitas Tarumanagara UPT penerbitan, 1999, 67 – 72

Published in: on Maret 20, 2008 at 9:19 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags:

The URI to TrackBack this entry is: https://artivora.wordpress.com/2008/03/20/art-deco/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: